Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Maukah Kau jadi Kekasihku?

Pertanyaanku adalah maukah engkau
menjadi kekasihku sehari ini?

Sebab, aku butuh kekasih
yang mau menemaniku merobek tirai siang
lalu menerobos ke ruang senja nanti.

Disana, sambil menatap langit jingga merah,
akan kunyanyikan lagu dengan melodi
dari harpa jiwaku,

sebab, aku tahu jiwaku adalah
tempat lahir cinta dan keindahan
yang kuberikan padamu

Tentang Sebuah Kehilangan

Nyanyian Yasin melantun indah;
di beranda hatimu senja ini, sayang;sedang,
keranda duka yang sunyi
Tersipu menatap jasad rindumu yang terkapar;
Seolah sedia membawamu, kekasih;

Pun, tlah tercium harum kamboja, sayang;
Dari sebuah pusara hati
Yang meradang;
Sungguh, kehilangan tak memberi ruang untukku
Menari bersama hujan;

Ini Puisi Milik Siapa Pak Presiden?



Ini puisi milik siapa?
Yang tersiar di alun-alun kota
Jajakan kerupuk mental yang memental
Di pangkuan malam yang meluka

Balada Siasia: Pendekar Cinta


matahari hilang. rembulan menyia-sia. malu. malam apa ini?
lalu, gerimis menyanyikan luka malam yang ruah


tujuh purnama. menebas. musuh hilang nyawa. tujuh purnama. ia mencari lirih sayup cinta 
ah, kaukah yang tersenggol rindu menukik?


Penantian pendekar pedang naga, sebuah pertarungan ujung nyawa
bertemu musuh di seberang sana, kedua pedang pecah cahaya

Kau Dimana; Jangan Kembali Padaku


kau dimana? saat lukaku memerih di altar sunyi.
Kau dimana? saat rinduku ingin menemuimu
tergeletak di atas kubangan lumpur~pun kau tak pungut
Kau dimana~saat hatiku sungguh letih menghitung tiap derap langkah kisah yang tak usai pada ujungnya.

Kau dimana? saat kueksekusikan pemilik cinta tak mencintaiku.

ahh; mana kau tahu
Sebab, hatimu buta kini,
Tersesat di keriuhan cinta yang kaupuja

Kepada Lelaki bermata Sendu

Kepada lelakiku
Kusajakkan kau kali ini
Dalam kata yang tak begitu indah;
Dibarisan rindu yang tak lagi terurai;sebab
Diketika itu,
Kau akan meminang jiwa kekasihmu
sementara nyanyian jiwaku meredup
Dikawanan riang yang sepi malam ini.

Purnama Merindu

Seperti purnama merindu
Kuselipkan selembar inginku
Menemui-Mu

Tertatih dipikuk keheningan malam-Mu
Seperti keris Fajar menoreh luka
Pada wajah purnama

Kubisikkan sepenuh dahagaKu
Perlahan, kujumput rinduku
Yang terserak dipelataran bisingMu

Puzzle Cinta

Kekasihku, Keagunganku mencintamu
Ketika harus kurelakan dirimu dengannya

Pergilah, sebab cintamu tlah memilihmu
Dia adalah keindahan bagi alam
Tempat musafir cinta berkelana.

Disini, akan tetap kusemai rinduku
Diantara jiwa dan ruhku yang menggigil
dikehampaan hatiku.

Duhai, LelakiKu! Inilah Aku, kekasihmu

Kepuasan seperti apalagi yang kau inginkan Lelaki?
Wanitamu telah memberikan keindahannya
Sepasang bola mata indah yang hanya memandangmu
dengan tatapan tak berkedip

Bibir meranum yang akan menyuguhkanmu
ribuan ciuman kata suciNya

Wajah bersinar seperti cahaya pagi yang selalu terbasuh wudhu
Senyuman sehangat mentari
yang akan dicadarinya agar tak dinikmati pecinta lain

Jika Kelak Ku Temui Bulan

Jika kelak kutemui bulan
Ingin kujamah selaput hatinya
Setubuhi cahayanya
Dengan mata ‘Tayu’ ku….

Namun,
Bulan tak ingin temuiku…
Pesannya tersampaikan pada pekat malam
Pada hitam langit
Pada cahaya bintang……
Aku tak peduli…..
Sebab bintang kini menyapaku

Empat Musim

Pada suatu musim yang membara
Kulihat ragaku terbakar api cinta

Pada suatu musim yang membeku
Kudapati batinku bersatu digundukan salju membatu

Pada suatu musim yang bersemi
Tetap kurangkai hatiku hingga ujung musim

Pada suatu musim yang mencair
Tak jua kudapati rasa itu melumur padamu
Hingga diujung musim ini
Kugenggam asaku lagi