Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan

Renungan untuk Pria Cuek


Written by Rianty Tayu Syafna

Sekadar melanjutkan tulisan sebelumnya tentang warning for Ladies bagi yang memiliki pacar cuek. Kali ini, saya akan menulis beberapa hal yang harus direnungkan oleh cowok cuek terhadap Ladiesnya yang sudah bersabar menghadapi sikapnya. Sebelum kamu benar-benar kehilangannya nanti, sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut ini.

*      Sensitif. Kata ini seolah menjadi hantu bagi pria. Mereka menganggap bahwa pria itu tak perlu sensitif, sebab itu ‘kata’ milik kaum hawa. Padahal, jika pria memahami bahwa selama dia masih berstatus sebagai mahkluk bernama’manusia’ maka kesensitifan dalam dirinya akan tetap selalu ada. Hanya terkadang tertutupi oleh sesuatu yang berlabel ego. Menurut wolipop.com (2010) bahwa “Ego seorang pria terkadang sangat tinggi. Ego inilah yang membuat mereka tidak sensitif.Mereka menghindar dari sifat sensitif karena takut terlihat lemah. Bila terlihat lemah, ia akan diejek dan dicela oleh teman atau

Kopi dan Wanita: Tren Masa Kini?

(ilustrasi : google)
“Bagi saya, kopi itu kebutuhan”

KOPI. Jenis minuman satu ini sungguh tak lazim lagi kedengarannya bagi masyarakat dunia, umumnya dan Indonesia, khususnya, terutama pria. Beberapa kalangan menganggap bahwa pria pecinta kopi sudah dimaklumat pun perokok berat. Sejatinya seperti itu, benarkah? Sebab saya sendiri pun meragukannya. Namun, tentu saja, opini semacam ini sudah melebur bersama dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang ada sekarang.

Kau_Penasbih Cintaku_Aku_Kekasihku=Ikhlas

Dicomot paksa dari Om Google
Aku paham dengan hatiku sekarang. bahwa terkadang mencintai itu lebih menyakitkan, hingga kalimat yang selalu terngiang di indra dengarku bahwa “milikilah hati seseorang yang mencintaimu dengan tulus, ikhlas, bukan mempertahankan hati yang kau cintai tapi tak pernah engkau miliki.”

Saya sadar dengan sesadar-sadarnya, hati yang pernah kumiliki itu selalu ada hingga kini, bahkan mungkin takkan lekang oleh waktu aku ingin menyayanginya. Namun, perasaan yang tersisa itu hanyalah sebentuk perasaan menyayangi seorang adik pada kakaknya.
IKHLAS??

Ya. aku sangat ingin meraih kata itu. bukan hanya sekadar kata yang selalu terucap dibibirku ketika saya harus melihat bahkan menyaksikan peristiwa yang bagi sebagian kekasih lainnya akan merasakan gempa seketika bagi ruh dan raganya. Namun, Kata IKHLAs berhasil menuntunku agar berani menerima risiko mencintai kekasih. Bukankah mencintai itu bukan hanya untuk diberi semata? tapi, untuk memberi cinta dengan melihat kebahagiaan mereka. Dan, prinsip sepertilah itu yang selalu tertanam di logikaku hingga kini.